Desk Terus, Guru Tak Kunjung Dikirim
Pernah nggak sih, Bapak/Ibu duduk di ruang rapat, nungguin kegiatan Desk Data GTK, terus tiba-tiba ada yang celetuk:
“Desk aja terus, udah tiga tahun. Guru kurang terus, tapi gak dikirim-kirim.”
Saya dengar itu, saya diam. Bukan karena nggak setuju. Justru karena saya paham banget kenapa celetukan itu muncul. Kita semua yang di sekolah tahu rasanya. Jam pelajaran kosong, kelas nggak dapat guru mapel, kita harus muter otak cari solusi. Tiap tahun bilang “semoga tahun depan dikirim”, tiap tahun pula yang datang cuma jadwal desk lagi.
Tapi sebentar. Sebelum kita semua ikut-ikutan ngomel, ada baiknya kita duduk sebentar. Minum kopi. Kita luruskan dulu apa sebenarnya yang terjadi. Karena kalau kita cuma marah tanpa paham, kita bakal marah terus tanpa tahu harus ngapain.
Pertama, Desk Data GTK itu ngapain sih sebenernya?
Sederhananya, Desk Data GTK itu kegiatan merekam kondisi nyata distribusi guru di sekolah-sekolah jenjang SMA, SMK, dan SLB. Jadi bukan sekadar duduk, isi data DibaGTK, dan wawancara. Petugas turun, lihat langsung, sekolah ini kelebihan guru apa, sekolah itu kekurangan guru apa, semua didata.
Bayangkan kalau nggak ada desk. Kita nggak akan punya angka. Kita cuma punya perasaan: “kayaknya kita kurang guru nih.” Perasaan nggak bisa dikirim ke pusat. Tapi angka bisa.
Kedua, hasil desk itu apa?
Ya itu tadi, potret terbaru. Sekolah mana kelebihan, sekolah mana kekurangan. Guru mapel apa yang berlebih, guru mapel apa yang kurang. Data ini penting banget, karena dari situ kita tahu kondisi lapangan sebenarnya, bukan asumsi.
Ketiga, data itu buat apa?
Untuk dilaporkan ke pemerintah pusat. Iya, ke pusat. Karena kebutuhan guru ini bukan wewenang dinas provinsi sendirian. Dinas provinsi merekam, mengolah, lalu menginformasikan. Pusat yang memutuskan. Jadi kalau sekolah merasa “kok dinas diam aja?”, padahal dinas sedang kirim data kita ke atas. Cuma memang hasilnya nggak bisa instan.
Keempat, kalau desk-nya berhenti?
Nah ini yang bahaya. Kalau kita berhenti desk, kita nggak punya data terbaru. Pusat nggak dapat informasi kondisi kita. Akibatnya? Kekurangan guru makin nggak kelihatan. Yang tadinya kurang, makin nggak kelihatan kurang. Lebih parah, bukan lebih baik. Jadi desk itu bukan buang-buang waktu. Desk itu satu-satunya cara kita terlihat dan terdengar.
Terus, kenapa guru nggak dikirim-kirim?>
Ini bagian yang bikin kita harus tarik napas panjang. Kebutuhan guru itu bisa dipenuhi lewat tiga pintu besar:
- Pengadaan.
Ini rekrutmen pegawai baru oleh pemerintah. Kewenangannya di pemerintah pusat, bukan dinas provinsi. Jadi kalau tidak ada pengadaan pegawai baru, ya tidak ada tambahan guru. Sederhana, tapi menyakitkan. Kita bisa desk serapi apa pun, kalau pusat belum buka rekrutmen, guru baru nggak akan muncul. - Penyediaan.
Ini yang bisa dilakukan dinas provinsi. Caranya lewat distribusi guru yang sudah ada: mutasi PNS atau pemetaan ulang PPPK. Guru yang kelebihan di satu sekolah, diupayakan pindah ke sekolah yang kekurangan. Ini pintu yang paling bisa kita andalkan, karena tidak perlu nunggu pusat buka rekrutmen.
Tapi… tetap tidak mudah. Karena tidak semua kelebihan cocok dengan kekurangan. Ada sekolah kelebihan guru Ekonomi, sementara sekolah sebelah kekurangan guru Bahasa Indonesia. Nggak bisa asal pindah. Harus lihat mapel, sertifikasi, beban kerja, dan formasi. - Mutasi dari luar Jawa Barat.
Ini juga pintu masuk, tapi prosesnya panjang. PNS yang mau masuk ke Jawa Barat itu melibatkan banyak pihak. Ada BKD, ada Bappeda, ada Biro Organisasi, dan OPD lain. Semua punya pertimbangan. Terutama soal anggaran daerah. Karena menerima PNS pindahan itu bukan cuma soal “selamat datang”, tapi soal kemampuan daerah membayar gaji, tunjangan, dan lain-lain. Jadi nggak bisa asal terima.
Jadi, paham kan sekarang?
Kenapa desk terus dilakukan, tapi guru nggak kunjung dikirim?
Karena:
- Belum ada pengadaan pegawai baru dari pusat.
- Mutasi PNS tidak selalu bisa menutup kekurangan, karena mapelnya belum tentu cocok.
- Pemetaan ulang PPPK juga terbatas, tidak semua bisa digeser.
- Mutasi dari luar Jawa Barat butuh pertimbangan banyak pihak dan kekuatan anggaran daerah.
Desk itu bukan tujuan. Desk itu alat. Tanpa desk, kita buta. Dengan desk, setidaknya kita punya peta. Dan dengan peta, kita bisa menuntut dengan data, bukan cuma dengan emosi.
Jadi, buat kita-kita yang di sekolah…
Kecewa itu wajar. Capek itu wajar. Tiap tahun ngisi kelas kosong, tiap tahun juga berharap ada keajaiban guru baru datang. Tapi mari kita ubah cara kita menyampaikan. Bukan “desk aja terus, guru gak dikirim”, tapi:
Desk ini hasilnya apa, sudah sampai mana, dan apa langkah berikutnya?
Pertanyaan itu jauh lebih kuat. Karena yang menentukan perubahan bukan celetukan di ruang rapat, tapi data yang rapi, suara yang jelas, dan desakan yang terukur.
Desk terus, guru tak kunjung dikirim. Tapi setidaknya, dengan desk, kita tahu persis di mana kita berdiri, dan ke mana kita harus mendorong.
Apakah ini menjawab pertanyaan Anda ?

